Judul asli wejangan Ki Ageng Suryomentaram ini adalah Wejangan Kawruh Beja Sawetah, diceramahkan di Surakarta pada tahun 1931. Merupakan hasil renungan beliau, bahwa pada hakikatnya, proses rasa hidup manusia yang sesuai dengan hukum alam serta tindakan yang mengikuti hukum itu pasti berkembang dan berbuah dengan wajar.
Bagian 1 : Senang-Susah, Mulur, Mungkret
Bagian 2 : Rasa Sama, Iri dan Sombong, Tenteram
Bagian 3 : Rasa Abadi, Sesal dan Khawatir, Tabah
Bagian 4 : Mengawasi Keinginan, Benih Pengetahuan, Bahagia
Bagian 5 : Penutup
BAGIAN I
Senang-Susah
Di atas bumi dan di
kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak
secara mati-matian. Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian
untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya
dicari, ditolak atau dihindarinya. Bukankah apa yang dicari atau ditolaknya itu
tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah
selamanya. Tetapi pada waktu orang menginginkan sesuatu, pasti ia mengira atau
berpendapat bahwa "jika keinginanku tercapai, tentulah aku bahagia dan
senang selamanya; dan jika tidak tercapai tentulah aku celaka dan susah
selamanya".
Pendapat di atas itu
teranglah keliru. Bukankah sudah beribu-ribu keinginannya yang tercapai, namun
ia tetap saja tidak bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi? Juga
sudah beribu-ribu keinginannya yang tidak tercapai, namun ia tetap saja tidak
celaka, melainkan bersusah hati sebentar kemudian senang kembali. Jadi pendapat
bahwa tercapainya keinginan menyebabkan rasa bahagia atau tidak tercapainya
keinginan menyebabkan rasa celaka, jelaslah keliru. Tetapi setiap keinginan
pasti disertai pendapat demikian.
Sebagai contoh, ketika
orang berkeinginan sesuatu, misalnya berhajat mengawinkan anaknya, dan karena
ia tidak punya cukup uang, ia akan mencari pinjaman.Di dalam mencari pinjaman
itu ia merasa: "Jika usahaku untuk mencari pinjaman ini tidak berhasil,
pastilah aku celaka dan merasa malu selamanya". Andaikata ia gagal
memperoleh pinjaman, ia tidak akan merasa celaka, melainkan hanya merasa malu
sebentar. Kemudian setelah merasa susah karena ia tidak dapat mengundang siapa
pun, tidak dapat menanggap (mempertunjukan) wayang dan tidak dapat mengadakan
janggrungan (tarian bersama antara penari-penari dan tetamu-tetamu dalam pesta
perjamuan orang Jawa), ia pun akan merasa senang lagi, bahkan lega
hatinya."Wah, untunglah usahaku mencari hutang tempo hari tidak berhasil.
Andaikata aku berhasil, pasti sekarang ini aku akan kelabakan (gelisah) mencari
uang untuk membayar hutang itu kembali."
Demikianlah, maka jelaslah bahwa
tidak tercapainya keinginan tidak menyebabkan orang merasa celaka.
Demikian juga keinginan
yang tercapai tidak menyebabkan orang merasa bahagia. Misalnya orang berhasrat
keras untuk kawin. Ia merasa: "Jika si Anu itu menjadi suami/isteriku,
berbahagialah aku." Dibayangkannya: "Jodohku itu akan kugandeng
selama tiga tahun tanpa kulupakan." Tetapi bila hasrat kawinnya itu
benar-benar terlaksana, ia pun tidak akan sungguh-sungguh bahagia, melainkan
hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Bahkan sering terjadi dalam
perkawinan bahwa sesudah seminggu saja sudah terjadi pertikaian.
Jadi teranglah bahwa
jika keinginan itu tercapai maka hal itu tidak menyebabkan bahagia dan jika
tidak tercapai, tidak pula menyebabkan celaka. Kenyataannya ialah bahwa senang
dan susah itu tidak berlangsung terus menerus. Sepanjang hidup manusia sejak
masa kanak-kanak sampai tua, ia belum pernah mengalami senang selama tiga hari
tanpa susah, atau mengalami susah selama tiga hari tanpa senang. Pengalaman
semacam itu tidak akan terjadi dan tidak mungkin dapat dialami.
Mulur
Yang menyebabkan senang
ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak,
lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur,
memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu
meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat tercapai dan hal
ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung
terus-menerus.
Misalnya menjelang hari
raya orang ingin membeli sarung baru. Kata hatinya: "Bila aku dapat
membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari
besar nanti, aku dapat melancong ke mana-mana." Andaikata sarung baru itu
dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergembira sebentar
kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu mulur, maka ia merasa:
"Memang, meskipun sarungnya sudah baru, ikat kepalanya pun harus
baru." Maka ia ingin membeli ikat kepala, tetapi uangnya tidak cukup, maka
gagallah keinginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlangsung
terus menerus. Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan ikat kepala
baru, pasti keinginannya mulur lagi. Hatinya akan berkata: "Sekarang
sarung dan ikat kepalanya sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus
baru pula?"
Kemudian bila pakaiannya
baru sudah ada, tentu keinginannya mulur lagi. Sandalnya, arlojinya,
kendaraannya, rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti
keinginannya akan mulur lagi: "Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya
masih yang lama saja. Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri
baru." Bila nanti memperoleh isteri baru, pasti mulur lagi: "Anaknya
pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama
saja?" Demikianlah keinginan itu mulur sehingga apabila apa yang
diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang
itu tidak tetap adanya.
Keinginan itu terwujud
dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Mencari semat ialah mencari
kekayaan, keenakan, kesenangan. Mencari derajat ialah mencari keluhuran,
kemuliaan, kebanggaan, keutamaan. Mencari kramat ialah mencari kekuasaan,
kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji.
Misalnya orang mencari
semat/kekayaan agar ia berpenghasilan tetap. Rasa hatinya berkata: "Jika
aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak
seperti sekarang ini, kadang-kadang hanya tiga rupiah, bahkan kadang-kadang
juga rugi." Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak
bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan
karena keinginannya mulur sebagai berikut: "Ternyata penghasilan sepuluh
rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh lima
rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia." Nanti bila sudah memperoleh
dua puluh lima rupiah keinginan pun mulur lagi. "Kalau aku hanya menerima
dua puluh lima rupiah saja, terang tidak mungkin aku bahagia. Bahkan hal itu
akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon, hingga
ke sana ke sini aku membuat bon. Hanya jika aku berpenghasilan seratus rupiah,
baru aku benar-benar bahagia." Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus
rupiah keinginannya pun mulur lagi dan ia ingin dua ratus, tiga ratus rupiah.
Sampai berpenghasilan beribu-ribu rupiah, berjuta-juta rupiah, masih kurang
terus. Demikianlah keinginan itu mulur sampai pada suatu ketika ia tidak
mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu
tidak tetap adanya.
Demikian pula dalam
usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten wedana,
pasti keinginannya mulur dan ia ingin menjadi wedana. Kemudian setelah menjadi
wedana, tentu keinginannya mulur lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun
sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata
terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. "Ternyata
menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena memerintah
manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitannya." "Mungkin kalau
menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin,
pasti mulur lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, yang berupa
anjing tanah, kacuak, tokek dan sebagainya. Demikian mulurnya keinginan sampai
apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali
susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap.
Demikian pula dalam
usaha memperoleh kramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki
kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit lumpuh dengan meniupnya saja.
Ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi, karena
mulurnya keinginannya. Hatinya berkata: "Kalau hanya dapat menyembuhkan
orang lumpuh dengan meniupnya saja, aku tidak berbahagia. Akan tetapi kalau
dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya,
segan, takut kepadaku dan akan memujaku." la akan berusaha ke sana sini
untuk dapat menghidupkan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya
tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidupkan dua orang
saja, maka timbul kekhawatirannya. "Celakalah aku nanti. Jika setiap orang
mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa kemari
semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan
bangkai anjing, babi hutan dan lain-lain. Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan
sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat melayang-layang
mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, tanpa melakukan
perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk
bekalnya." Ia akan ke sana ke sini berusaha keras supaya bisa melepaskan
sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada.
Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya, ia pun tidak akan
benar-benar bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi. Hatinya
berkata "Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu sampai tidak
dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Namun manakala aku bisa menghilang,
pastilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar
tanpa diketahui pemiliknya, dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang,
uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang,
dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai".
Bila ia kemudian
berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya mulur lagi, sehingga ia ingin
bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah mulurnya
keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka
susahlah ia. Jadi jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat
(kekayaan), derajat (kedudukan), kramat (kekuasaanl, apabila sudah terlaksana
pasti akan mulur. Maka senang itu tidak tetap sifatnya.
Mungkret (menyusut)
Demikian pula rasa susah
pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang
berwujud rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit,
terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti
mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik
dalarm jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbullah rasa
senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.
Bila keinginan yang
mungkret ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan mungkret lagi. Mungkretnya
keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu.
Tentunya apa
yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu
terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya.
Misalnya orang lapar
ingin makan, tentu dipiiihnya lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur
dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti
mungkret, sehingga makan nasi dengan garam saja ia sudah senang. Bila nasi
dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga
makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia
peroleh, pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga dengan diteguknya air saja,
cukup sejuklah lidahnya.
Contoh yang makin jelas
lagi ialah bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka
dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas,
berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu
tidak terpenuhi, ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar,
kemudian senang kembali. Oleh karena keinginannya mungkret, maka rasanya,
"Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik
wajahnya bolehlah" Jika yang cantik pun tidak diperolehnya, tentu
keinginannya mungkret lagi: "Walaupun tidak cantik asal saja masih
perawan"
Bila ini pun tidak berhasil, mungkret lagi keinginannya
"Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak." Bila pilihan ini
masih juga gagal, pasti keinginannya mungkret lagi: "Walaupun banyak
anaknya, asalkan saja ia sehat" Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi,
pasti mungkret lagi keinginannya: "Walaupun cacad, asalkan berwujud
orang" Padahal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja,
pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi. Dari sebab itulah
penderita-penderita cacad, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang
bersuami/isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama mungkret
keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diinginkan itu
tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap.
Jadi jelaslah bahwa
senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan
tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang diinginkan
tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan
karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini
mesti mungkret sehingga apa yang diinginkan itu mungkin tercapai, maka akan
tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila
mungkret akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang, dan
keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang
diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret. Mungkret,
tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tereapai, susah, mungkret lagi. Maka
sifat keinginan itu sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar
mungkret. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda
hingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang,
sebentar susah.
BAGIAN II
Rasa Sama
Manusia itu mempunyai
keinginan, yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur,
sebentar mungkret. Sifat ini yang menyebabkan rasa hidup orang sejak kecil
sampai tua, pasti bersifat sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang,
sebentar susah. Siapa saja dan di mana saja rasa hidup orang tentu bersifat
sebentar senang, sebentar susah, karena semuanya mempunyai keinginan. Jika
tidak mempunyai keinginan, maka ia bukanlah manusia, dan tiap keinginan pasti
bersifat seperti di atas tadi.
Jadi rasa hidup manusia
sedunia ini sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, sebentar
senang, sebentar susah. Sekalipun orang kaya, miskin, raja, kuli, wali (aulia),
bajingan, rasa hidupnya sama saja, ialah sebentar senang, sebentar susah. Yang
sama adalah rasanya senang-susah, lama-cepatnya, berat-ringannya. Sedang yang
berbeda adalah halnya yang disenangi/disusahi.
Umpama orang kaya senang
dapat mendirikan pabrik dan orang miskin senang dapat mendirikan kendil (periuk
nasi). Kesenangan kedua orang tadi pada hakekatnya sama. Seorang raja merasa
senang bahwa ia dapat menyerbu sebuah kota lawannya, dan memboyong (membawa
pulang) puteri. Sedangkan seorang kuli kereta-api merasa senang bila dapat
menjelajahi gerbong-gerbong dan memboyong (mengangkat-angkat) koper. Kedua
orang itu sama di dalam merasa senang. Seorang wali (orang sakti) merasa senang
bila dapat terbang di angkasa, sedangkan seorang bajingan merasa senang pula
dapat mencopet barang, kedua-duanya sama di dalam merasa senang.
Tetapi seorang miskin
sering beranggapan bahwa orang kaya itu tidak pernah susah. Anggapan demikian
itu keliru, sebab diri orang kaya pun berisi keinginan yang bila tercapai pasti
mulur. Misalnya seorang kaya raya, memiliki perusahaan kendaraan bis. Walaupun
sudah mempunyai beratus-ratus bis, keinginannya tentu mulur. Ia tentu ingin
mempunyai kereta api. Setelah mempunyai kereta api, pasti keinginannya mulur
lagi, ia ingin mempunyai kapal laut. Sebelum keinginan mempunyai kapal laut
tercapai, tiba-tiba ia menghadapi masalah berdirinya perusahaan bis baru
sehingga ia merasa susah karena khawatir kalau disaingi. Maka orang kaya
bagaimanapun, rasa hidupnya tentu sebentar senang, sebentar susah, sebentar
senang, sebentar susah.
Demikian pula seorang
wali (aulia) sering dikira tidak pernah susah. Perkiraan demikian itu keliru,
karena wali pun berisikan keinginan. Misalnya seorang wali yang sakti, seperti
dalam dongengnya Sinuhun Kanjeng Sultan Agung di Mataram. Ia raja dan juga wali
dan ketika ia hendak pergi ke Banten dengan jalan terbang, dan itu terlaksana,
maka senanglah ia. Tetapi ketika hendak pulang ke Mataram, juru tamannya
meninggalkannya, maka rontoklah bulu sayapnya, hingga susahlah ia. Jika wali
yang bagaimana pun, rasa hidupnya pasti sebentar senang, sebentar susah.
Apabila mengerti bahwa rasa orang di dunia sama saja, yakni sebentar senang,
sebentar susah, bebaslah kita dari penderitaan neraka iri hati dan kesombongan.
Iri dan Sombong
Iri adalah merasa kalah
terhadap orang lain, dan sombong adalah merasa menang terhadap orang lain. Iri
dan sombong inilah yang menyebabkan orang berusaha keras, mati-matian,
berjungkir balik, untuk memperoleh semat (kekayaan), derajat (kedudukan) dan
kramat (kekuasaan). Hatinya berkata: "Sebaiknya kucari uang
sebanyak-banyaknya agar menjadi kaya seperti orang itu, dan jangan sampai
miskin seperti orang ini; agar bisa mengejek orang ini dan jangan sampai diejek
orang itu. Dan kuharus memperoleh derajat yang luhur, supaya mulia seperti
orang itu, dan jangan sampai hina seperti orang ini, sehingga terhormat seperti
orang itu, dan tidak diremehkan seperti orang ini.
Harus kucari kramat
(kekuasaan) yang besar, supaya berkuasa dan dapat menaklukkan orang itu. Jangan
sampai lemah dan ditaklukkan orang ini." Begitu hebat usahanya, hingga ia
merasa "lebih baik mati jika tidak tercapai"
Perasaan "lebih
baik mati jika tidak tercapai" itu bila sering terlintas dalam pikiran,
dapat membangunkan tekad yang aneh-aneh dan bertapa yang aneh-aneh. Orang yang
sedang dihinggapi iri-sombong ini cenderung mencari guru-guru atau dukun-dukun.
Pada guru atau dukun itu dimintanya petunjuk: "Bagaimana kyai, hidupku ini
mengapa senantiasa susah. Apakah memang nasibku harus dibenci orang? Bagaimana
baiknya?" Jika guru atau dukun itu mengatakan: "Sanggupkah anda
bertapa secara ditanam selama empat puluh hari? Itu memang berat tetapi bila
dikurniakan, tentu nasibmu akan lebih baik." Makin gelap pikirannya namun
karena terbenam dalam rasa iri-sombong, ia akan menyanggupinya: "Baiklah
saya bersedia ditanam, asal dapat kurnia. Andaikata aku gagal dan mati, itu pun
justru lebih baik dari pada hidup sekali saja menjadi buah ejekan
tetangga-tetangga, kesana diejek, kesini diejek." Bilamana benar-benar
digali lobang untuknya dan ia memeriksanya serta menengok ke kanan ke kiri,
tiba-tiba ia merasa ngeri: "Kyai, jika penguburan diriku ditangguhkan saja
sampai setelah tanggal dua saja, bagaimana?"
Bila orang mengerti
bahwa rasa orang sedunia itu sama, teranglah pandangannya. Kemudian ia tahu
bahwa orang yang ditanam selama empat puluh hari, pasti akan mati karena tidak
dapat bernapas. Mengingat bahwa jika dibungkam selama dua menit saja, orang
sudah kehabisan napas, bagaimanakah bila ditanam empat puluh hari?
Idam-idaman orang yang
iri hati atau sombong ialah asal dapat melebihi orang lain dalam segala hal.
Dalam hal makanan, pakaian, perumahan, keluarga, anak-anak dan sebagainya, ia
ingin melebihi orang lain. Sedangkan orang-orang lain pun ingin menyaingi atau
melebihi orang lain lagi. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila
dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah satu sama lain bersaingan sehingga
semuanya jatuh ke bawah.
Bila dalam usahanya
untuk melampaui orang lain ia sering tergelincir bahkan ia justru dilampaui
orang lain, maka kesallah hatinya, "Baik, sekalipun aku kalah asal saja
tetanggaku itu hidupnya merana, maka senanglah hatiku." Sedangkan
tetangganya pun berusaha menyusahkan orang lain. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta
manusia bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah saling menyusahkan.
Bila dalam usahanya
menyusahkan orang lain, sering berbalik menyusahkan diri sendiri maka ia masih
tinggal dapat mengumpat orang lain. Sedangkan orang lain pun mengumpat orang
lain lagi. Maka beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila dihinggapi iri-sombong,
tindakannya hanya saling mengumpat. Bahkan tiap kali bercakap-cakap dengan
suami/isterinya tidak lain hanya menjelekkan tetangganya, sampai pada soal yang
kecil-kecil, misalnya: "Sesungguhnya si anu itu kan sudah payah betul.
Lihat saja surat gadainya sudah daluwarsa; pohon-pohon kelapanya sudah
digadaikan dan ia hanya kebagian yang hanya cukup untuk dimakannya
sendiri."
Padahal untuk melebihi
seseorang saja sudah susah-payah, memaksakan diri bertirakat sampai luar-batas,
Nglawet (nama tempat bertapa), Gua Langse (di pantai Parangtritis, Yogya) dan
Gedancer (tempat bertapa). Bila ia telah dapat melebihi seseorang, ia akan
melihat bahwa ada orang lain lagi yang melebihinya.
Sedangkan jumlah orang yang
melebihinya tidak terhitung banyaknya.
Apalagi untuk melebihi
orang lain dalam hal perincian, pastilah tidak akan berhasil, sekalipun sudah
bertirakat segala. Misalnya orang melebihi orang Iain dalam kekayaannya, tetapi
kalah dalam kedudukannya, lalu berusaha keras untuk melebihi kedudukannya.
Kalau sudah melebihi kedudukannya, tetapi kalah kekuasaannya, ia akan berusaha
keras untuk melebihi kekuasaannya. Kalau sudah melebihi kekuasaannya, tetapi
kalah tampan wajahnya, ia akan berusaha keras untuk melebihi ketampanannya.
Misalkan ia sudah menang dalam hal ketampanan wajahnya, tetapi kalah muda dalam
usia, ia pun berusaha keras untuk membuat dirinya lebih muda tampaknya. Karena
dalam janggrungan, pesta dengan tarian dimana penari wanita menari bersama
dengan tamu laki-laki, orang-orang muda dipersilakan masuk gelanggang untuk
menari lebih dulu. Akan tetapi bila ia lebih muda ia pun berusaha keras untuk
membuat dirinya lebih tua, karena orang-orang tua itu dalam pesta-pesta makan
selalu dipilihkan makanan yang serba empuk.
Perasaan orang yang
irihati-sombong ini, tiap kali menyumpahi orang, jika tidak melebihi tentu
dilebihinya. Bila melebihi, dalam hatinya mengejek, "Lihat si Anu itu
akhirnya celaka, karena tidak mau percaya padaku, tidak mau meniru jejakku,
tentu saja celaka." Tetapi bila diungguli ia merasa penasaran: "Tidak
heran si Anu itu kaya, karena bukan main kikirnya. Bila ia buang air kedapatan
kacang kedele dalam kotorannya, maka kedele itu dikorekinya dari kotorannya."
Padahal tiap kali orang
ke luar rumah pasti ia bertemu orang yang jika tidak melebihi tentu
dilebihinya. Maka hidup orang sedari kecil sehingga tua, bila dihinggapi
iri-sombong, hanya merasa mengejek dan diejek orang.
Jika orang hendak
mengetahui rasa iri-sombong atau lebihnya sendiri, yang jelas dalam pergaulan,
maka hal itu dapat ia jalankan bila sedang nonton pasar malam, menghadiri pesta
perjamuan dan sebagainya. Bila di situ orang merasa kalah baik sarungnya ia
akan meraba-raba ikat kepalanya dan berkata: "Ikat kepalaku lebih
baru." Bila ikat kepalanya dirasakannya masih kalah, diangkatlah dadanya
dan diperlihatkan bajunya "Bajuku memang baik." Bila ia merasa kalah,
diangkatlah sarungnya dan diperlihatkan celana dalamnya, "Celanaku menang
lebar." Bila toh masih merasa kalah, jengkellah ia, maka dikeluarkan
pipanya, "Tetapi pipaku menang panjang."
Pandangan orang yang
iri-sombong terhadap semua keadaan dan kejadian di dunia, terbalik-balik, tidak
benar. Misalkan orang ingin memiliki sepeda, dari kerasnya keinginannya ia
merasa "Benar-benar aku menderita bila tidak memiliki sepeda, kalau
barang-barang lainnya tidak kuhiraukan." Maka jika dijumpainya seorang
mengendarai sepeda, apalagi jika pengendara itu tetangganya yang dibencinya dan
hendak dilebihinya, dan justru dirinya kini jatuh dikalahkan maka begitu ia
mendengar suara "kring" bel sepeda itu, terkejutlah ia serentak.
Pulang rumah dengan gelisah tidak bisa tidur, hatinya penasaran dan
dijelekkannya lawannya, "Tidak heran si Anu itu memiliki sepeda, karena hidupnya
tidak lumrah (lazim), bermuka tebal. Lain dengan aku ini yang tidak tega hati
menyikut orang." Demikian pandangan orang terbalik-balik disebabkan rasa
iri-sombong. Benarkah orang mengendarai sepeda itu sengaja membuatnya terkejut,
gelisah? Tentu tidak!
Dari sangat hebatnya
pandangan terbalik-balik itu sehingga membikin orang, sehabis memandang
perempuan cantik atau laki-laki tampan, maka membenci suami/isterinya. Hatinya
mengomel, "Bila kurasakan, suami/isteriku ini memang sungguh-sungguh
jelek, ya rupanya, ya jelek hatinya. Kalau sampai menjadi jodohku ini pasti
tidak melalui jalan sewajarnya. Dulunya pasti aku diguna-guna sehingga aku
terpikat kepadanya." Demikianlah terbalik-baliknya pandangan orang yang
iri-sombong. Padahal wanita cantik atau laki-laki tampan pastilah tidak sengaja
membikin ia benci pada suami/isterinya.
Tenteram
Apabila orang mengerti
bahwa rasa orang sedunia sama saja, bebaslah ia dari penderitaan neraka
irihati-sombong, kemudian bisa masuk sorga ketenteraman. Artinya dalam segala
hal bertindak seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya dan
sebenarnya. Ia akan dapat merasakan rasa hidup yang sebenar-benarnya, yaitu
mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.
Sebab ketika dihinggapi
iri-sombong, orang tidak dapat merasakan rasa hidup yang sebenarnya. Dalam hal
makan misalnya, walaupun setiap hari makan, orang tidak merasakan makanannya,
tetapi yang dirasakan hanyalah makanan tetangga-tetangganya. Kemudian
mengeluhlah ia, "Kalau si Anu itu memang senang hidupnya, makannya
terjamin tiga kali sehari, sepiring penuh, lauk-pauknya enak-enak;
berganti-ganti telur daging. Lain dengan diriku ini serba celaka, makannya
tidak menentu, lauk-pauknya tidak lain tidak hanya garam sambel, paling mujur
tempe. Bila ingin daging ayam, hanya mendapat pekerjaan membubuti (mencabuti)
bulunya dan membersihkan isi perutnya."
Bilamana bebas dari
siksaan neraka iri-sombong dan masuk ke dalam sorga ketenteraman, ia akan dapat
menasihati dirinya sebagai berikut, "Lho, bagaimana ini, orang mau makan
kok menggerutu. Makannya enak atau tidak, jika enak teruskanlah, jika tidak
enak hentikanlah." Teranglah pandangannya, maka mengerti maksud tujuan
orang makan yaitu enak (lezat) dan kenyang. Maksud tujuan ini sudah tercapai,
karena tiap kali merasa Iapar, makanlah segala apa yang lazim dimakan orang,
maka pasti enak, dan kalau banyak jumlahnya pasti kenyang. Maka tenaga
kaki-tangan berkelebihan untuk mencari makanan yang enak serta mengenyangkan
itu.
Jadi rasa hidup yang
sebenarnya sebentar senang, sebentar susah, dalam hal makan pasti sebentar
enak, sebentar tidak enak, sebentar kenyang, sebentar lapar. Tetapi bila
dihinggapi iri-sombong, orang tidak memperdulikan enak atau kenyang, melainkan
berusaha melebihi orang lain. Jika hendak mengetahui iri-sombong atau
keinginannya sendiri untuk melebihi orang lain, yang jelas bila kebetulan
sedang bersama orang banyak dalam kedai makanan. Baru saja datang orang segera
berteriak "Godog!" (minta direbuskan suatu makanan). Kemudian baru
saja masakan tadi disodorkan, ia sudah minta lagi "Goreng! Cabenya biar
banyak!" Bila dilihatnya tamu lain memegang telur, ia pun mengambil ayam
goreng, dipegangnya dengan kedua tangannya. Jika toh masih merasa kalah,
hatinya penasaran diangkat kakinya keatas meja sembari bersiul, sekalipun tidak
bersuara.
Oleh karena dihinggapi
iri-sombong sehingga gelap pandangannya, maka walaupun sudah beranak-cucu,
orang tidak dapat merasakan rasa bersuami/isteri. Setiap kali menjumpai
suami/isterinya, yang dirasakan suami/isteri orang lain, "Si Anu itu
hidupnya memang enak lantaran mempunyai suami/isteri yang menyenangkan,
perhatiannya besar, lagi setia. Lain dengan diriku ini serba celaka, mempunyai
suami/isteri rewel sekali, sedikit-dikit marah, sedikit-dikit marah."
Bila sudah bebas dari
siksaan neraka iri-sombong dan masuk sorga ketenteraman, orang lalu dapat
menasihati dirinya: "O, bagaimana ini, orang bersuami/isteri kok mengomel.
Sesungguhnya perkawinannya enak atau tidak, jika enak diteruskan, jika tidak
enak ya diceraikan saja." Maka tenanglah pandangannya dan mengerti bahwa
rasa bersuami/isteri itu nikmat.
Bila ingin mengerti
kenikmatan bersuami/isteri, ialah pada waktu malam hari udara dingin, lagi
turun hujan, berdesak-desak dengan suami/isteri pun hangat. Bila pinggangnya
kaku pun lantas lemas, tidurnya pulas, bangun pagi merasa segar, bekerja penuh
semangat. Kebalikannya jika tidak bersuami/isteri tidak demikian nikmat. Pada
malam yang dingin, apalagi turun hujan, badannya benar-benar dingin. berdesak-desak
hanya dengan balai-balai, pinggangnya kaku tetap kaku, ingin tidur tidak dapat
memejamkan mata, dari pukul sembilan hingga pukul tiga malam belum juga pulas
karena memikirkan suami/isteri orang lain. Maka pada duda, janda, jejaka,
gadis, bila dijangkiti iri-sombong, seringkali betah bergadang. Tetapi bila
tidak, hanyalah sekali tempo saja.
Jadi rasa hidup yang
sebenarnya ialah mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang,
sebentar susah. Dalam perkawinan tentu sebentar nikmat, sebentar tidak nikmat,
sebentar nikmat, sebentar tidak nikmat. Bila keluar dari neraka iri-sombong dan
masuk surga ketenteraman, orang akan bebas dari kewajiban yang berat-berat.
Kebiasaan orang itu mewajibkan dirinya sendiri: "Orang hidup itu harus
begini, makannya harus begini, pakaiannya harus begini, rumahnya harus begini,
tindak tanduk terhadap tetangga, suami/isteri serta anak-anaknya harus
begini." Semua keharusan-keharusan itu adalah hal-hal yang berat sehingga
tidak dapat dilaksanakan, karena bertentangan antara kewajiban yang satu dengan
kewajiban yang lain.
Sebagai contoh, misalnya
orang menerima undangan dari tetangganya yang punya hajat pesta mengawinkan
anaknya. Ia akan mewajibkan dirinya untuk datang hadir dengan pakaian baru,
serta membawa uang cukup untuk menyumbang dan main kartu domino. Tetapi
keadaannya tidak memungkinkannya untuk mempunyai pakaian baru dan uang, oleh
karena itu ia merasa susah. Hendak datang hadir takut, dan hendak tidak hadir
pun takut.
Bila lepas dari neraka
iri-sombong dan masuk surga ketenteraman ia akan dapat menasihati dirinya
"Lho, bagaimana langkahku ini, mau datang takut, mau tidak datang pun
takut. Apakah harus setengah datang dan setengah tidak datang?
Lalu bagaimana
wujud tindakan setengah datang dan setengah tidak datang itu? Apakah
melongok-longok di depan pagar saja, ataukah terus menerobos masuk ke dapur,
membantu cuci piring?" Dengan kesadaran di atas, pandangannya semakin
terang: "Sudahlah, jika mau datang, ya datang saja, jika tidak mau datang,
ya tidak usah datang. BiIa tidak punya pakaian baru, pakailah pakaian lama, hal
itu sudah sebenarnya. Bila tidak punya uang, maka tidak dapat menyumbang dan
main domino, pun sudah selayaknya." Jadi rasa hidup yang benar adalah
sebentar senang, sebentar susah, yang dalam hal menentukan kewajiban mesti
suatu waktu begini, suatu waktu tidak begini.
Bila orang mengerti
bahwa rasa hidup manusia sedunia sama saja, yakni pasti sebentar senang,
sebentar susah, bebaslah ia dari neraka iri-sombong dan masuklah dalam surga
ketenteraman. Kemudian dalam usahanya mencari kekayaan, kedudukan, kekuasaan,
dengan cara seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya,
sebenarnya, yaitu hidup tenteram.
BAGIAN III
Rasa Abadi
Keinginan itu bersifat
sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret, rasanya
sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Pada
hakekatnya keinginan itu langgeng (abadi), artinya sejak dulu sudah ada, kini
pun ada, kelak pun selalu ada.
Ketika orang masih dalam
kandungan ibunya, keinginannya sudah ada, walaupun tidak disadarinya. Seperti
halnya bayi menangis berkeinginan menyusu, Ketika masih sebagai darah pun sudah
tumbuh keinginan yang menumbuhkan badan, kepala, tubuh, tangan, kaki dan
sebagainya. Ketika belum ada dalam kandungan dan masih ada pada ayah dan ibunya
pada waktu ayah dan ibunya saling mengungkapkan rasa suka sama suka, hal itu
merupakan gejala keinginan manusia yang hendak lahir.
Demikian keinginan itu
tidak berawal, ketika bumi dan langit belum ada, keinginan sudah ada. Demikian
pula keinginan tidak berakhir, bila nanti orang sudah mati, badannya rusak,
busuk, keinginan masih ada saja. Bila nanti bumi dan langit tidak ada,
keinginan masih tetap ada. Jadi keinginan itu tanpa awal dan tanpa akhir. Oleh
karenanya keinginan itu abadi, Sebab keinginan itu barang asal.
Barang asal itu
tidak ada asalnya, tetapi justru berupa asal, dari itu abadi. Keinginan ialah
asal dari pada hidup, benih hidup, yang menyebabkan hidup, oleh karenanya
abadi.
Seperti juga asal semua
barang jadi itu bersifat abadi. Wujud barang jadi (bahasa Jawa: dumadi) itu
seperti rokok, korek api, cangkir, piring, rumah, dunia, bintang, bulan,
matahari dan sebagainya. Asal barang jadi misalnya rokok, adalah abadi, tidak
berubah tidak berkurang atau bertambah. Bila rokok itu dibakar, rokok itu hanya
menjadi abu; sedang asal dari pada rokok masih tetap ada, tidak kurang, hanya
wujudnya kini abu. Bila abu itu nanti ditumbuk, hanyalah menjadi tumbukan abu,
sedang asal rokok masih tetap, tidak kurang tidak lebih, yang kini berwujud
tumbukan abu. Sekalipun tumbukan abu ini nanti dibuang ke luar dunia, asal
rokok itu masih tetap ada tidak kurang tidak lebih, hanya kini ada di luar
dunia.
Demikian pula keinginan,
bagaimanapun dihancurkannya melalui kesusahan, penderitaan malu, tidak akan
berubah bersama sifat-sifatnya. Sebab barang abadi itu pasti bersifat abadi
pula. Keinginan itu bersifat sebentar mulur sebentar mungkret, sebentar mulur
sebentar mungkret dan rasanya sebentar senang sebentar susah, sebentar senang
sebentar susah. Sedang rasa manusia pun sebentar senang sebentar susah,
sebentar senang sebentar susah. Jadi keinginan itu adalah manusia, maka manusia
itu abadi (lestari), sebentar senang sebentar susah. Bila keabadian manusia ini
dimengerti, orang akan bebas dari penderitaan neraka penyesalan dan
kekhawatiran.
Sesal - Kuatir
Menyesal ialah takut
akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang
belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati,
prihatin, hingga merasa celaka.
Menyesal ini rasanya:
"Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini, tidaklah
celaka begini." Menyesal ini ialah takut akan pengalaman masa lampau yang
menyebabkannya jatuh celaka, susah selamanya dalam keadaan miskin, hina, lemah.
Bila orang mengerti
bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut:
"Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar
susah." Kemudian lenyap penyesalan semacam tadi. Tetapi jika tidak
dimengerti, penyesalan itu berlarut-larut hingga takut akan hal yang aneh-aneh,
seperti takut terkutuk, takut durhaka, rasanya: "Dulu andaikata aku tidak
terkutuk oleh si Anu, tidak durhaka, tentu aku sudah bahagia dan tidak celaka."
Kalau mengerti maka orang dapat menyadari, "Walaupun dulu terkutuk durhaka
atau tidak durhaka, rasanya tentu sebentar senang sebentar susah," dan
lenyaplah penyesalan semacam itu tadi.
Berlarut-larutnya
penyesalan ini sampai menimbulkan ketakutan pada hal yang makin aneh ialah
takut hidupnya tersesat. "Andaikata dulu tidak menjadi anak ibu dan ayah
ini, pasti aku bahagia, dan tidak celaka seperti ini." Tetapi bila
mengerti babwa manusia itu abadi, ia dapat menasehati dirinya sendiri:
"Walaupun dulu menjadi anak ibu-ayah ini atau tidak, tentu rasanya
sebentar senang sebentar susah", maka lenyaplah penyesalan tadi.
Ketakutan hidup tersesat
di atas perinciannya sampai pada takut tersesat mempunyai suami/isteri dan anak
si Anu, rasanya: "Andaikata dulu aku tidak salah memperoleh suami/isteri
dan anak si kunyuk (si dogol) itu, pastilah aku bahagia dan tidaklah
celaka." Tetapi bila ia mengerti bahwa orang itu abadi, dapatlah ia
menyadarkan dirinya: "Walaupun dulu aku mempunyai suami/isteri dan anak seperti
kunyuk-kunyuk itu atau tidak, rasaku tentu sebentar senang, sebentar
susah," maka lenyaplah penyesalan tadi.
Demikian pula
kekhawatiran yang berupa takut akan pengalaman yang belum dialami, kalau-kalau
jatuh celaka, susah selamanya, dalam keadaan miskin, hina, lemah. Rasanya:
"Bagaimanakah nanti akhirnya bila aku tidak mencapai kebahagiaan yang
kucita-citakan, tetapi tetap celaka seperti sekarang ini?" Tetapi jika
orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya:
"Walaupun kelak akan terjadi apa saja, misalkan bumi dan langit merapat,
rasanya pasti sebentar senang sebentar susah," maka lenyaplah kekhawatiran
tadi.
Jika tidak dimengerti,
kekhawatiran itu berlarut-larut sehingga takut akan hal yang aneh-aneh seperti
takut kuwalat, takut durhaka. Padahal apakah kuwalat dan durhaka itu saja tidak
dimengerti. Namun ditakuti juga, aneh bukan? Tetapi bila mengerti bahwa manusia
itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: "Mana ada orang kuwalat atau
durhaka? Kalau toh ada, rasanya pasti hanya sebentar senang sebentar susah.
Katanya orang kuwalat itu kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Kalau begitu
malah bisa merasakannya. Sebab yang sudah dialami berpuluh-puluh tahun hidup
dengan kepala di atas dan kaki di bawah ternyata tidak enak. Seperti pada waktu
cekcok dengan suami/isterinya atau tetangganya. Lihatlah orang-orang dengan
kepala di atas, kaki di bawah itu." Dan lenyaplah kekhawatiran di atas
tadi.
Berlarut-larutnya
kekhawatiran itu sehingga takut akan hal yang semakin aneh seperti mati tersesat.
Alangkah anehnya orang mati bisa tersesat. Tetapi bila mengerti bahwa manusia
itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya: "Bagaimana mungkin orang mati
itu tersesat. Kalau tersesat tentu ke arah hidup yang pernah dialami ini. Lagi
pula jika ada mati tersesat tentu ada pula hidup tersesat. Padahal ketika
hendak hidup tanpa bertanya kepada siapa pun, tanpa bekal apa-apa, ia menjelma
tepat dengan hidung di atas mulut, kuping di kedua sisi, kepala di atas, kaki
di bawah dan sebagainya, melalui jalan yang benar." Kemudian lenyaplah
kekhawatiran yang aneh tadi.
Khawatir takut mati
tersesat ini perinciannya hingga takut setelah mati akan menjelma sebagai
babi-hutan. Alangkah anehnya! Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi,
orang dapat menasehati dirinya: "Bagaimanakah orang mati dapat menjelma
menjadi babi-hutan. Andaikatapun benar, maka orang justru dapat merasakan
bagaimana hidup sebagai babi-hutan. Pasti hanya berdengus-dengus mencari ubi.
Dan pastilah tidak takut dihentikan dari pekerjaan, melainkan takut di
semak-semak hutan. Sedangkan yang dialami berpuluh-puluh tahun hidup sebagai
manusia pun tidak enak. Misalnya ketika mencari pinjaman tidak berhasil, atau
ditagih hutangnya tidak sanggup membayarnya. Enakkah hidup sebagai orang?"
Kemudian lenyaplah kekhawatiran tadi.
Menyesal dan khawatir
ini mengandung anggapan atau pendapat bahwa orang itu dapat memperoleh senang
atau susah yang abadi. Maka dengan dikejar secara mati-matian rasa senang itu
dan ditolaknya secara mati-matian rasa susah itu, menimbulkan ketahayulan pada
dirinya yang mengakibatkan penderitaan. Tahayul itu ialah menghubung-hubungkan
sebab dan akibat yang tidak ada sangkut-pautnya. Sebagai contoh, misalnya orang
berdagang sedang sial, tidak berani dagang, maka berkatalah: "Kesialan ini
tentu lantaran aku tidak membakar kemenyan dan tidak bersembahyang pada malam
menjelang hari Jumat yang lalu, sehingga daganganku tidak laku." Jelaslah
membakar kemenyan dan bersembahyang itu tidak ada sangkut paut dengan kesialan
dagangan tidak laku. Namun orang yang bertahayul itu menghubung-hubungkan juga.
Contoh lain yang lebih
jelas, misalnya seorang anak tengah bermain, tiba-tiba sakit kejang-kejang,
maka orang berkata: "Anak itu pasti dijegal oleh syaitan penunggu jalan
perempatan itu, oleh karena itu kejang-kejang badannya." Padahal jelas
anak sakit kejang tidak bersangkut-paut dengan syaitan penunggu jalan. Untuk
menerangkan syaitan itu apa, orang tidak tahu. Apakah syaitan itu berkaki dua
atau empatkah, bertelur atau menyusuikah, orang tidak tahu. Namun orang
bertahayul menganggapnya bisa menjegal.
Contoh yang lebih jelas
lagi, tatkala gunung Merapi meletus, orang bertahayul menghubungkannya begini:
"Peristiwa itu adalah pernyataan Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Laut Selatan)
yang marah lantaran gagal dalam mencari korban untuk pesta perkawinan
putra/putrinya, sehingga diletuskannya gunung Merapi,
beledar-beledur-beledar-beledur." Jelaslah Kanjeng Ratu Kidul tidak ada
sangkut-paut dengan letusan gunung Merapi. Karena siapakah dan apakah Kanjeng
Ratu Kidul itu saja, orang tidak tahu. Namun orang bertahayul memaksa
menghubung-hubungkannya demikian.
Ketahayulan itu
menyebabkan orang bertapa dan berpantang yang aneh-aneh, seperti merendam diri
selama satu jam dalam tempo empat puluh hari, dengan pendapat bahwa: "Jika
setiap malam merendam diri sambil mengucapkan mantera-mantera ini, daiam waktu
empat puluh hari pasti aku akan memperoleh karunia dan senangiah aku
selama-lamanya." Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah
pandangannya dan tahulah bahwa hasil orang merendam diri selama itu, hanyalah
menggigil kedinginan semata-mata. Bahkan isterinya terlanjur kesepian
kedinginan tidak dapat tidur sebab menunggu-nunggunya. Dalam pada itu mertuanya
pun membenci karena melihat anaknya tidak dilayani sewajarnya melainkan
ditinggalkannya tiap malam hanya untuk merendam diri.
Tindakannya berpantang
yang aneh-aneh itu seperti pantang makan dan pantang tidur. Padahal orang lapar
itu enaknya kalau makan dan orang mengantuk itu enaknya kalau tidur. Jadi orang
itu memantang hal-hal yang enak-enak, namun mengeluh bahwa tidak pernah
mengalami keenakan dalam hidupnya. Tetapi jika mengerti bahwa manusia itu
abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa hasil berpantangan makan dan
tidur itu lapar dan kantuk belaka.
Pantangan aneh-aneh itu
kalau berlarut-larut sehingga berpantang berdekatan dengan suami/isteri
sendiri, enakkah rasa yang berpantang dan yang dipantang itu? Pastilah tidak.
Itu pun belum tentu ia dapat bertahan dalam pantangannya. Nanti baru berjalan
seminggu saja, bila tidak diawasi, diam-diam, sudah menyerobot. Setelah itu
saling menyesali: "Orang sudah dipesan sedemikian rupa! Orang sedang
prihatin bertapa supaya memperoleh kurnia! Mengapa kamu pun masih mau saja dan
kini semua usahaku batal, dan untuk mulai lagi aku tidak sanggup."
Tetapi jika orang
mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa
hasil berpantang isteri sendiri adalah tidak betah. Demikian sifat katahayulan
yang mendorong orang bertapa dan berpantang yang bukan-bukan, karena
berpendapat bisa senang atau susah selama-lamanya.
T a b a
h (Bhs.Jawa: Tatag)
Apabila kita mengerti
bahwa manusia itu abadi, keluarlah orang dari neraka menyesal-khawatir dan
masuk surga ketabahan. Ini berarti berani menghadapi segala hal. Berani menjadi
orang kaya atau miskin, menjadi raja atau kuli, menjadi wali (orang suci) atau
bajingan. Karena ia mengerti bahwa kesemuanya itu rasanya pasti sebentar
senang, sebentar susah. Teranglah pandangannya dan mengerti bahwa semua pengalaman
itu tidak ada; yang mengkhawatirkan atau yang sangat menarik hati.
Pada pokoknya yang
ditakuti itu adalah kesusahan, padahal orang tentu mampu menderitanya. Sudah
terbukti beribu-ribu kesusahan yang dialami, ia mampu menderitanya. Kesusahan
yang paling hebat adalah merasa sangat malu atau menderita sakit sangat berat.
Sedangkan jika hanya sangat malu dan sangat sakit saja, pasti orang mampu
menderitanya. Walaupun ia selalu mengeluh: "Rasa malu kali ini benar-benar
melukai hatiku, aku tidak kuat menanggungnya. Itu lain dengan
pengalaman-pengalaman yang lampau!" Tetapi bila lepas dari neraka
menyesal-khawatir dan masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut bukti pada
diri sendiri yang sering bohong. "Malu yang mana yang kau tidak kuat
menanggungnya? Kenyataan yang tengah dialami ini, benar menimbulkan rasa malu,
benar-benar menyebabkan kau meringis sehingga kau benar-benar tidak berani
keluar rumah menemui orang. Namun meskipun demikian kau tetap kuat
menanggungnya juga."
Demikian pula di waktu
sakit, orang mengeluh: "Sakitku kali ini benar-benar berat, benar-benar
aku tidak kuat menanggungnya. Lain dengan sakit yang lampau!" Tetapi bila
lepas dari sesal-khawatir serta masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut
bukti pada diri-sendiri yang biasa membohong: "Sakit yang manakah yang kau
tidak kuat menderitanya? Kenyataan yang sedang dialami ini benar-benar sakit
berat sehingga kau benar-benar merintih, namun meskipun demikian tetap kuat
menanggungnya. Padahal betapapun hebatnya orang menderita sakit ia hanya
berakhir dengan mati. Sedangkan kalau cuma mati saja ia mesti kuat
menjalaninya, dan itu telah dialami oleh beribu-ribu orang yang mati. Kalau aku
mati, pasti perjalananku sama dengan orang-orang yang telah mati itu."
Oleh karena itu bila
orang kuat menanggung semua pengalaman dan dapat mencukupi apa yang
diperlukannya maka tumbuhlah rasa kaya. Tiap kali merasa malu, asal saja
meringis sudah cukup. Artinya orang tidak kehabisan rasa meringis bila mendapat
malu dan tidak kekurangan rintihan bila menderita sakit. Dan menjelang saat
kematian, asal saja berdiam diri sudah cukup.
Pada pokoknya yang
diinginkan adalah rasa senang dan rasa senang ini pasti tercapai. Di mana saja,
kapan saja, bagaimana saja, orang mesti mengalami senang. Misalnya orang
menderita susah karena terbakar habis rumahnya. Bila ia menemukan sebuah
celananya saja yang tidak turut terbakar, ia tetap bisa merasa senang.
"Wah, untunglah celanaku tidak terbakar." Misalnya orang menderita
susah karena terlindas mobil kakinya hingga putus. Pada waktu sadar dari
pingsannya ia pun masih dapat merasa senang. "Wah, untunglah kepalaku
tidak terlindas sekalian." Bila kepalanya pun kelindas hingga mati, masih
ia bisa senang, "Wah, untunglah isteriku tidak ikut terlindas."
Apabila orang mengerti
bahwa semua peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak
ada pula yang sangat menarik hati, maka teranglah pandangannya, serta bebaslah
ia dari barang-barang di atas bumi dan di kolong langit ini. Karena ia mengerti
bahwa barang-barang di atas bumi di kolong langit itu tidak dapat menyebabkan
orang bahagia atau celaka. Juga tidak dapat menyebabkan orang senang atau
susah.
Karena pada hakekatnya,
yang menyebabkan senang itu ialah keinginannya tercapai, dan yang menyebabkan
susah itu ialah keinginannya tidak tercapai. Tetapi bukanlah barang-barang yang
diinginkannya.
Misalnya bila hujan
dianggap menyenangkan, maka tiap kali turun hujan orang mesti senang. Tetapi
kenyataannya tidak demikian. Bagi orang yang sedang menyelenggarakan
pertunjukan ketoprak (sandiwara jawa), bila hujan turun maka ia merasa susah.
Kebalikannya, bila hujan dianggap menyusahkan, tiap kali hujan turun orang
mesti merasa susah. Kenyataannya pun tidak demikian. Bagi petani yang sedang
menanam padi, bila hujan turun maka ia merasa senang.
Contoh lain yang lebih
gamblang dan terang. Bila orang bersuami/isteri yang mempunyai anak dianggap
senang, maka setiap orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap senang
saja. Padahal yang sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercekcok dengan
suami/isterinya, dan anak-anaknya rewel, orang pasti merasa susah.
Kebalikannya, jika bersuami/isteri dan beranak itu dianggap susah, maka setiap
orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap susah saja. Padahal
sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercumbu-mesra dengan suami/isteri dan
menimang-nimang anaknya, pasti orang merasa senang.
Jadi jelaslah bahwa
barang-barang itu tidak menyebabkan orang senang atau susah. Oleh karena itu,
di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang-barang yang pantas
dicari, ditolaknya atau dihindari secara mati-matian.
BAGIAN IV
Mengawasi Keinginan
Manusia itu semua sama
yakni abadi, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar
susah, demikian seterusnya. Bila kebenaran itu dimengerti, keluarlah orang dari
penderitaan neraka iri-sombong, sesal-khawatir yang menyebabkan prihatin,
celaka, dan masuklah ia dalam surga tenteram dan tabah yang menyebabkan orang
bersuka-cita, bahagia.
Setelah bersuka-cita dan
bahagia, maka dapatlah orang menyadari dirinya sendiri sewaktu timbul keinginan
apa-apa. Setiap keinginan itu pasti mengandung rasa takut kalau-kalau tidak
tercapai. Keinginan inilah yang segera diyakinkannya: "Keinginan itu jika
tercapai tidak menimbulkan bahagia, melainkan senang sebentar yang kemudian
akan susah lagi. Dan bila tidak tercapai pun tidak menyebabkan celaka, hanyalah
susah sebentar yang kemudian akan senang lagi." Maka ia bisa menantangnya:
"Silakan keinginan, berusahalah mati-matian mencari senang-senang abadi,
dan berdayalah mati-matian menolak susah abadi, pastilah tidak berhasil. Kamu
(keinginan) tidak mengkhawatirkan lagi".
Bila orang dapat
meyakinkan keinginannya sendiri demikian, lenyaplah rasa prihatin. Berbareng
lenyapnya prihatin, tumbuhlah si pengawas keinginannya sendiri yang mengerti
keinginannya sendiri.
Benih Pengetahuan
Si pengawas keinginannya
sendiri ini ialah rasa aku, rasa ada. Orang itu tentu berasa aku, tidak bisa
tidak berasa aku. Setiap berasa aku tentu berasa ada. Berasa aku tetapi tidak
berasa ada, tidaklah demikian.
Si pengawas itu abadi
karena ia itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya untuk membuatnya,
tetapi malahan sebagai asal dari semua barang dan hal. Ia itu asalnya rasa
aku-senang, aku-susah. Si pengawas ini abadi dalam mengawasi keinginannya
sendiri yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur,
sebentar mungkret dengan rasa sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang,
sebentar susah. Rasa abadi yang mengawasi keinginannya sendiri itu, ialah abadi
senang dan abadi bahagia.
Ketika si pengawas belum
timbul, orang merasa "akulah berkeinginan, aku senang, aku susah." Ia
itu masih sebagai benih pengetahuan yang mengetahui tindak-tanduk manusia,
serta belum timbul rasa senang dan bahagia. Wujudnya si pengawas ketika itu
belum timbul, tetapi masih sebagai benih ialah seperti contoh berikut ini.
Misalnya orang ingin buang air, dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan
mengerti "Aku ini tergesa-gesa menuju ke kakus, pastilah ingin buang-air."
Yang mengerti bahwa dirinya ingin buang air ini, tidaklah ikut berkeinginan
buang air, akan tetapi hanya mengerti kehendaknya saja, yaitu si pengawas
ketika belum tumbuh tetapi masih sebagai benih pengetahuan.
Contoh lain yang lebih
jelas ialah orang yang makan cabe merasa pedas. Dalam diri orang itu ada yang
mengetahui dan mengerti "Aku ini megap-megap mencari minuman, tentulah
kepedasan." Yang mengerti bahwa dirinya kepedasan ini tidaklah turut
kepedasan, melainkan mengerti bahwa dirinya kepedasan, yaitu ketika si pengawas
belum timbul tetapi masih sebagai benih pengetahuan.
Contoh lain yang lebih
dekat, misalkan orang merasa malu, dalam diri orang itu tentu ada yang
mengetahui dan mengerti: "Aku ini pasti mendapat malu, karena
meringis-ringis dan tidak berani keluar rumah." Yang mengerti dirinya
memperoleh malu ini, tidaklah turut merasa malu, melainkan mengertinya saja,
yaitu ketika si pengawas belum timbul, tetapi masih sebagai benih pengetahuan.
Dan orang merasa "Akulah berkeinginan, yang senang, yang susah, yang malu,
yang kepedasan, yang ingin buang air, adalah aku."
Bila si pengawas sudah
timbul, lenyaplah rasa prihatin, kemudian orang merasa "Aku bukanlah
keinginan", dari sini ia akan merasa "Yang senang dan susah bukanlah
aku", dari sini ia merasa "Yang malu, yang kepedasan, yang ingin
buang air bukanlah aku."
B a h a g i a
Maka orang akan merasa
"Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia." Bila orang sudah
mempunyai rasa "Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia",
maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri, ia
merasa "Itu bukanlah aku." Begitu juga dalam menanggapi dunia dengan
segenap isinya dan semua kejadian-kejadian, orang pun merasa "Itu bukanlah
aku."
Demikian rasa aku itu
bahagia dan abadi. Karena itu, di mana saja, kapan saja, bagaimana saja,
bahagialah orang itu. Demikianlah pengetahuan orang hidup bahagia.
BAGIAN V
PENUTUP
Demikian keseluruhan
rasa-rasa manusia. Rasa-rasa yang diterangkan di sini hanyalah yang pokok-pokok
saja. Adapun kefaedahannya hanyalah sebagai batu loncatan untuk mempelajari
perincian rasa-rasa sendiri.
Yang menjadi penghalang
untuk mengetahui perincian rasanya sendiri ialah cita-cita dalam arti umum.
Wujud cita-cita itu adalah: "Mencari senang abadi", seperti yang
telah dibahas dalam buku ini. Bila diteliti sampai benar-benar jelas cita-cita
itu lenyap, artinya orang akan berasa bahwa "Cita-cita ini bukanlah
aku."
Bila cita-cita itu telah
diketahui, dapatlah orang mengetahui perincian rasa-rasanya sendiri. Ternyata
bekerjanya (prosesnya) rasa-rasa itu menurut hukum alam. Bila hukum alam itu
diketahui, orang akan bertindak sesuai hukum alam itu dan merasa bahagia.
==SELESAI==